Beranda > Uncategorized > Mario Teguh Golden Ways – TANGGA MUNUJU SURGA

Mario Teguh Golden Ways – TANGGA MUNUJU SURGA

Sahabat Indonesia yang super,

yang sedang membangun keindahan hidupnya di dunia, agar indah kehidupannya di surga.

Mudah-mudahan partial summary dari MTGW – TANGGA MENUJU SURGA, yang semalam ditayangkan oleh sahabat-sahabat super kita di Metro TV ini, mendapati Anda dalam kesungguhan yang super untuk menjadikan minggu ini sebagai minggu yang penting dalam tahun yang semakin menua ini.

Berikut adalah summary dari sebagian konsep program semalam, yang saya susunkan bagi penikmatan di ruang keluarga MTSC yang ramah dan santun ini.

Please kindly enjoy, absorb, and apply.

Mario Teguh Golden Ways
TANGGA MENUJU SURGA

METRO TV

28 September 2009
19.05 – 20.00 WIB

………..

Ibu Linna dan saya, di The Peak – dengan latar belakang kota Hong Kong.
Gambar diambil oleh Marco.

Hidup dengan kualitas kesurgaan bisa dimulai di dunia ini, dengan mulai membiasakan diri hidup dengan cara-cara yang akan kita gunakan di surga.

Di surga, setiap pribadi dari kita akan berlaku sangat santun kepada satu sama lain.

Di surga kita tidak membeda-bedakan orang berdasarkan ras, suku, agama, atau nasionalitas. Kita tidak saling membandingkan diri dalam status sosial, harta, tingkat pendidikan, siapa teman-teman kita, di mana kita tinggal

Di surga kita mengisi pikiran dan hati kita hanya dengan kebaikan dan kasih sayang. Kita hanya melakukan kebaikan dengan penuh kasih sayang. Kita tidak memiliki kemampuan lain kecuali kemampuan untuk merasakan nikmat yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.

Maka siapa pun yang berkesungguhan untuk membiasakan diri dengan kualitas pikiran, perasaan, dan tindakan indah yang pantas bagi pergaulan di surga – ia seperti telah memulai kehidupan surga-nya di dunia.

………..

Di mana kah Tuhan berada?

Tuhan berada di mana-mana. Maka, ke mana pun kita menghadapkan wajah kita, sebetulnya kita menghadap kepada Tuhan.

Maka,

Kita selalu, setiap saat, menghadapkan wajah kita kepada Tuhan.

Dan semua keadaan dan kejadian, ada di antara kita dan Tuhan.

Apa pun yang terjadi, terjadi kepada Anda dalam kehadiran Tuhan. Dan sadarilah bahwa Anda sedang berada dalam pengamatan.

Apakah Anda akan tetap berlaku baik di hadapan kejadian yang buruk, yang berada di antara Anda dan Tuhan?

Apakah Anda akan tetap berlaku baik, karena Anda sadar bahwa Tuhan sedang mengamati Anda?

Ataukah kejadian yang buruk itu memberikan alasan bagi Anda untuk berlaku buruk di hadapan Tuhan?

Apakah Anda menyadari bahwa kejadian buruk itu adalah untuk menguji kualitas kesadaran Anda bahwa Tuhan sedang mengamati?

Bukankah Anda yang selalu menasehatkan kepada orang lain bahwa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar?

Lalu mengapakah kejadian kecil yang tidak terlalu buruk seperti itu, cukup untuk membuat Anda berlaku tidak hormat di hadapan Tuhan?

………..

Jika kita menyadari kesinambungan perhatian dan pengamatan Tuhan kepada kita, maka marilah kita menjaga kebersihan pikiran kita, memelihara kebeningan hati kita, dan menetapkan keindahan perilaku kita.

………..

Jika kita telah mengumumkan kepada diri sendiri dan kepada dunia, bahwa kita mencintai Tuhan, maka marilah kita membuktikan kecintaan kita kepada Tuhan dengan memuliakan kehidupan.

Bukti bahwa kita mencintai Tuhan, adalah kita mencintai kehidupan dan semua pengisinya.

Ada orang yang tidak mampu membayangkan dirinya mencintai dunia, karena dia takut mengurangi cintanya kepada akhirat.

Bagaimana mungkin kita menyepelekan kehidupan dunia, padahal semua kualitas kehidupan kita di akhirat nanti ditentukan oleh kualitas kita sebagai pribadi dalam kehidupan di dunia?

Bukankah semua proses pemuliaan Tuhan yang akan memantaskan diri kita bagi keindahan kehidupan akhirat – itu semua – kita lakukan di dunia ini, saat kita masih hidup?

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah dia yang bermanfaat bagi orang lain?

Di manakah kita membangun kemampuan untuk bermanfaat bagi orang lain itu – kecuali di dunia?

Bukankah semua doa dan pujian kita kepada Tuhan menjadi semakin indah, jika doa dan pujian itu kita rambatkan ke langit sebagai pensyukuran kewenangan untuk menjadi pribadi yang berguna bagi banyak orang?

………..

Hidup ini memang sementara.

Tetapi tidak ada satu detik pun dalam kehidupan yang sementara ini yang boleh ditelantarkan.

Jika kita berbicara serius, kita mengawalinya dengan ‘demi Tuhan’.

Dan karena Tuhan juga serius saat Beliau berfirman tentang waktu, Tuhan mengawalinya dengan ‘demi masa’.

Jika kita menghitung penggunaan waktu kita, sebetulnya setiap orang sedang merugi.

Kita rugi karena tidak mengisi waktu yang dihadiahkan Tuhan itu, dengan pikiran baik, perasaan baik, dan tindakan baik.

Hidup ini memang sementara.

Tetapi siapakah dari kita yang bisa bertahan kelaparan selama empat hari saja?

Hidup ini memang sementara.

Tetapi siapakah yang mengajarkan kepada kita untuk memiskinkan keluarga hanya karena pengertian kita mengenai sementara itu kurang tepat?

Jika hidup ini memang sementara, mengapakah kita mengeluh dalam kelemahan dan kekurangan?

Hidup ini memang sementara, jika kita dibandingkan dengan panjangnya keindahan hidup di akhirat.

Tetapi, jika dibandingkan dengan penderitaan karena rasa sakit, kelaparan, keterpinggiran, kemiskinan, dan ketertindasan – hidup di dunia ini sangaaaaaaaaaaat panjang.

Maka, janganlah pengertian mengenai kesementaraan hidup di dunia – jika dibandingkan dengan panjangnya kehidupan akhirat, menjadikan kita orang-orang yang menelantarkan kehidupan di dunia ini.

………..

Jika kehidupan dunia ini sementara, hanya mampir minum, dan tidak penting,

mengapakah pribadi pilihan Tuhan yang diperkenalkan kepada kita sebagai Utusan Tuhan,

juga dikenakan keharusan untuk meneladankan kesetiaan kepada kebenaran – sebagaimana yang diajarkan oleh sang utusan kepada kita?

Mengapakah Tuhan mengharuskan para Rasul dan Nabi untuk berlaku baik di dunia?

Mengapakah para Rasul dan Nabi juga meneladankan kehidupan dunia yang sejahtera, berbahagia, dan cemerlang?

Mungkin itu semua dimasukkan, agar kita menjadikan kehidupan dunia ini sebagai pembangun keindahan kehidupan akhirat kita.

Karena kehidupan di dunia ini tidak boleh ditelantarkan, hanya karena kita lebih memuliakan kehidupan akhirat.

………..

Marilah kita sadari, bahwa keindahan kehidupan kita di akhirat nanti – dibangun oleh keindahan kehidupan kita di dunia, karena kita menjaga kejernihan dari pikiran kita, memelihara kebeningan dari hati kita, dan menetapkan keindahan dari perilaku kita,

agar kita menjadi sebaik-baiknya pribadi bagi Tuhan,

karena kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain,

karena kita menjadi pribadi yang memuliakan orang tua, keluarga, dan siapa pun yang kita layani,

karena kita memelihara kelestarian alam,

dan karena kita hidup untuk Tuhan,

agar kematian kita menjadi gerbang yang indah, yang menghubungkan kehidupan kita di dunia ini, dengan kehidupan kita di akhirat – di surga.

Maka marilah kita ikhlaskan diri kita kepada kebaikan, karena hanya kebaikan yang membaikkan.

Hanya kebaikan yang mengindahkan.

Maka,

Jika kita hidup dengan indah, sebetulnya kehidupan adalah perjalanan indah yang tak terputus – antara dunia dan surga.

………..

Sahabat-sahabat saya yang terkasih,

Begitu dulu ya?

Mudah-mudahan kita menjadi lebih hadir dalam kehidupan kita ini, yang keindahannya ditentukan oleh kesungguhan kita untuk mengindahkannya.

Marilah kita mulai dengan berlaku santun kepada diri sendiri, dan kepada siapa pun yang kita temui hari ini,

karena kita telah menjadi lebih sadar akan pengamatan Tuhan atas perilaku kita terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain.

Teleponlah kekasih Anda. Jika Anda telah menikah, kekasih Anda itu adalah istri atau suami Anda.

Teleponlah dia, dan beritahulah dia bagaimana Anda mensyukuri kehidupan ini, karena telah diijinkan Tuhan untuk mengasihinya.

Katakanlah bahwa Anda menyayanginya, bahwa Anda mencintainya.

Dia berhak untuk mengetahui bahwa dia adalah pribadi yang penting dalam kehidupan Anda.

Dia-lah yang menjadikan kehidupan Anda bernilai.

………..

Mohon disampaikan salam sayang dari Ibu Linna dan saya, untuk keluarga Anda tercinta.

Terima kasih atas kesempatan untuk melayani Anda.

Salam super,

Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | 081-814-2080 | For The Happiness Of Others | Jakarta

Data Foto
Kamera Nikon D5000, Flash Nikon SB400, Lensa Tamron 17-50mm f/2.8 Di II VC

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: